Darimana Datang Cahaya?

Oleh : Sayyid M. Herlan (G-Reformation)

Langit tampak kekuningan, Aku tahu itu senja karena Aku membencinya. Ya, aku sangat membencinya. Yang tersisa dari mentari hanya sekelebat cahaya, meninggalkan bumi dengan temaram memilukan. Aku benci senja.

“Hai..”, suara yang kukenal terdengar samar dari belakang.

“Apa?”, aku menjawabnya tanpa menoleh.

“Kamu sedang apa?”, dia bertanya sambil duduk di sampingku.

“Menurutmu?”, aku masih menjawabnya dengan dingin.

“Menatap langit?”, dia mengikuti pandanganku.

“Bukan, aku menatap mentari. Atau lebih tepatnya, aku meratapinya”

“Kenapa?”

“Dia meninggalkanku. Tidak, bahkan lebih buruk. Dia mengabaikanku, aku benci mentari”.

“Hmm.. masalah tanda kutip ya?”

“Tanda kutip? Ya.. bisa dibilang begitu”. Kini dia mulai menarik perhatianku.

“Aku memang tak mengerti, tapi bukankah mentari itu indah?”

“Memang, tapi dari awal aku sadar, Setiap yang terbit pasti akan terbenam”

Sejalan jawabanku langit telah benar-benar gelap, mentari benar-benar kehilangan cahaya. Dia bangun, mengepuk-ngepuk debu yang mungkin menempel di roknya.

“Yasudahlah, senja sudah berakhir. Aku pulang dulu, satu hal untukmu. Setiap yang terbenam pasti akan terbit kembali, hehe ^_^”

Diapun pergi dengan melempar senyuman. Sejenak kutatap wajahnya, senyumnya cerah. Terbayang cahaya walau suasana remang. Aku tak tahu, darimana datang cahaya?

 

***

Malam merangkak, langit tampak lebih gelap. Titik-titik putih yang biasa terhampar kini tak menampakkan diri. Seolah mengerti akan hatiku yang merindu cahaya, mereka ikut menghilang.

“Masih meratap mentari? J” suara yang sama kembali terdengar. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Sejenak suasana hening, kami duduk bersama menatap langit. Aku tak mengerti, sedikit demi sedikit, satu persatu titik-titik putih yang bersembunyi mulai tampak.

“Mentari itu…”, aku mulai pembicaraan. Dia menatapku yang masih menatap langit.

“Dia terbit dalam gelap, member cahaya pada siapa saja yang tercipta, seolah member harapan yang tak pernah sirna. Tapi saat semua menginjak bayangannya, dia tegak di atas biru-putih, membiarkan tetesan peluh mengucur, dan pada akhirnya kembali terbenam dengan meninggalkan kegelapan”. Aku bicara walau tak tahu apa dia akan mengerti.

“Tapi gelap juga indah kan? Lihatlah langit itu, dia gelap tapi indah J”

Seperti biasa, dia berkata dengan senyum dibibirnya. Tapi di bawah langit ini, kurasakan sesuatu yang berbeda, senyumnya memanjarkan cahaya. Seperti kunang-kunang, walau satu titik tapi cemerlang dalam gelap. Aku tak tahu, darimana datang cahaya?

 

***

Malam berlalu, embun pagi mengganti keringnya rumput semalam. Langit tampak cerah, mentari terbit kembali, aku menyunggingkan senyum.

“Hai.. J” , suara tadi malam menyapaku.

Aku hanya tersenyum. Sekali lagi, sapaan itu tampak berbeda. Cemerlang mengalahkan mentari. Aku tak tahu darimana datang cahaya. Tapi kini aku mengerti, cahaya itu.. tidak terbit dan tak akan terbenam ^_^

Iklan

Egois

Malam ini hujan, Aku sendiri dikamarku bertemankan selimut ini. Saat menutup mata, rasa sakit di kepala semakin terasa. Saat membukanya, rasa perih ini sangat menyiksa. Teringat saat pelajaran sosiologi minggu lalu, saat aku berkata bahwa manusia adalah makhluk egois. Kurasa, mungkin bukan hanya manusia yang egois, penyakit inipun begitu. Mereka dengan santainya merusak tubuhku, tak peduli betapa sulitnya Aku menahannya. Yah.. meski itu hanya pikiran bodohku.

Aku terdiam sejenak. Sepi sekali disini, aku bahkan bisa mendengar detakan jarum jarum detik pada jam dinding kamarku. Aku bangun dan duduk bersandar dipojok ranjang. Kubuka mata, dan membiarkan rasa perih menjalar ke mataku. Kuraba tembok halus disampingku, dalam hatiku bergumam, “Tembok ini, tanpanya mungkin tak ada ruangan dalam rumahku, bahkan rumahkupun tak akan ada, dia melindungiku dari kehidupan diluar sana yang mungkin bisa membahayakanku, tak peduli betapa seringnya tangan kecil adikku mencoretinya dengan gaje, tak peduli betapa recoknya cat yang kuberikan padanya, dia tetap melindungiku”. Kulihat lampu di atasku, “walaupun agak menyilaukan, dia memberikan cahayanya disaat aku terlelap, meski jika aku mencampakkannya di diang hari, dia tetap mau menerangiku di malam hari. Pintu itu juga, tanpanya tak akan ada istilah masuk & keluar, dia tetap ada saat aku ingin pergi dari sini, walau sebanyak apapun aku membuka dan menutupnya kembali”.

Kututup mataku dan menukar rasa perih ini dengan pusing di kepala. “Mereka hanya barang-barang, mereka bahkan tak bernyawa, mereka sama sekali tidak egois. Apalagi manusia yang bernyawa? Mungkin aku telah salah mengenai manusia makhluk egois. Bukankah dunia ini diciptakan dengan berpasang-pasangan? Ada positif, ada negatif. Egoispun begitu, kupikir egois juga ada yang positif dan ada yang negatif, tergantung pelaku dan asumsi kita terhadapnya. Artinya, tak semua manusia berdifat egois (-), ada saja yang (+) dan aku harus jadi salah satu dari mereka. Penyakit inipun, mungkin dia hanya ingin menguji kesabaranku, terimakasih J

Intinya, mungkin aku hanya harus tetap membuka mata dan berasumsi yang positif, dengan begitu aku bisa berfikir manusia adalah makhluk egois, dalam arti yang lain. ^_^


Aku Ingin Seperti Ayah

“Kamu hebat, kamu memang seperti ayah dulu”. Kata-kata itu selalu terngiang dibenakku, saat tadi siang kakakku kembali dengan membawa pulang sebuah piagam dari hasil perlombaannya. Dalam hati aku berpikir, “kenapa kalimat itu dengan mudahnya terucap dari mulut ayah? Dia bahkan tak pernah mengucapkannya padaku,mungkin.. aku harus seperti kakak agar aku bisa seperti ayah dulu”. Akupun tanpa sadar tertidur lelap setelah memikirkan hal itu, berharap tak bermimpi agar cepat bertemu hari esok.

04.20 pagi aku terbangun dari tidur tanpa mimpi ini dan mempersiapkan diri untuk hari yang baru. Satu jam kemudian, tiba saatnya aku harus pergi ke sekolah. Diperjalanan, kembali aku terpikir dengan kata-kata ayahku kemarin, “mulai sekarang, aku harus aktif seperti kakak!”, batinku menyemangati diri.

Karena hal itu, aku coba untuk aktif dikelas, di organisasi, maupun dalam kegiatan ekstra kulikuler yang ada, aku buat jadwalku satu minggu penuh dengan kegiatan luar sekolah. Aku pikir ayah akan bangga akan hal itu. Tapi ternyata, asumsiku berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Sejak saat itu, aku jadi sering pulang sore, dan ayah tidak menyukai itu. Sampai suatu saat aku baru tiba di rumah pukul 17.30 sore setelah melaksanakan latihan ekskul. Aku pulang dengan rasa lelah ditubuh dan berharap aku bisa beristirahat dan menikmati hangatnya masakan ibuku. Tapi ternyata, saat aku membuka pintu tiba-tiba ayah memarahiku dengan kata-kata yang kasar, kata-kata yang tak pernah ku inginkan, “Buat apa kamu pulang?! Bukannya sekarang kamu punya sekolah buat tidur?! Jam segini baru pulang, kenapa gak sekalian nginep aja?”. “Maaf”, hanya itu yang dapat kukatakan padanya saat itu. “Maaf, maaf… udah, pergi aja sana! Jangan balik lagi kesini!”, bentak ayah sambil melempar tas sekolahku ke mukaku dan menutup pintunya.

Aku sangat sedih saat itu, “kenapa malah seperti ini? Bukan ini yang ku inginkan”, pikirku dalam hati. Akupun menyobek secarik kertas di bukuku dan menuliskan :

“Ayah, Aku hanya ingin kau bangga padaku, aku ingin kau berkata : -‘kamu seperti ayah dulu’- padaku, seperti saat kau mengatakannya pada kakak, maafkan aku Ayah…”

Ku selipkan kertas itu dicelah bawah pintu rumah yang tertutup rapat. Kulangkahkan kaki meninggalkan rumah. Aku bingung mau pergi kemana saat itu, sampai saat adzan isya berkumandang, tanpa berpikir lagi aku langsung pergi ke masjid yang tak jauh dari rumahku, tempat dimana adzan itu berkumandang. Saat itu aku menangis setelah melaksanakan shalat isya, aku bingung harus berbuat apa, aku bahkan tak ingat bahwa aku adalah anak MA yang tak pantas untuk menangis. Lama kelamaan, akupun tertidur dengan sendirinya.

Tiba-tiba, ditengah tidur lelapku aku merasa ada yang menyebut-nyebut namaku mencoba membangunkanku dari tidur. Saat kubuka mataku, ternyata itu adalah ayah, dia langsung memeluk tubuhku dengan menggenggam sebuah kertas ditangannya, diapun berkata padaku, “Maaf, maafkan Ayah, nak. Ayah bangga padamu, kamu tak perlu jadi seperti ayah untuk membuat ayah bangga, Ayah ingin kamu jadi diri kamu sendiri, Ayah ingin kamu lebih dari Ayah, nak. Ayah bangga padamu”. Tangisan sedihku saat itupun berganti menjadi tangisan bahagia, aku tak bisa berkata apa-apa lagi saat itu, aku sangat bahagia. Kamipun pulang ke rumah dengan keadaan yang berbeda dari sebelumnya.  🙂


Hasrat Untuk Berubah

Ini hari minggu, Ayah & Ibu sedang pergi dan akan pulang besok. Daripada main gak jelas, kupikir lebih baik kubereskan rumah ini dan kuputuskan untuk memulainya dengan membersihkan lemari tua milik kakekku dulu. Selain karena itu tempat yang paling kotor, aku juga penasaran dengan itu. Belum pernah sebelumnya kubuka lemari itu karena memang sebelumnya aku tak tertarik.

Saat kubuka lemari tua itu aku cukup kaget, ternyata kosong! Tak ada apapun didalamnya, mungkin Ayah sudah membongkarnya saat pemakaman kakek. Karena kosongnya lemari itu telah menjawab rasa penasaranku, maka kupikir tak ada lagi yang menarik disana. Tapi saat aku akan menutup kembali lemari itu, aku dikagetkan dengan sebuah buku yang terjatuh. Kuambil buku itu, cukup berdebu. Kutiup debu yang mengotori sampulnya dan tampaklah sebuah tulisan disana, “Sayyid M. Herlan”, ini milik kakek. Maka mulailah kubuka buku itu, lembar demi lembar dan akhirnya kutemukan sesuatu yang lebih menarik di salah satu halamannya, “Hasrat Untuk Berubah”. Aku jadi teringat kakek pernah bercerita sesuatu tentang perubahan, tapi aku tak terlalu ingat, aku tak pernah memperhatikan cerita-cerita klasiknya, kupikir mungkin ini cerita itu dan tanpa pikir panjang lagi kubaca cerita yang tertulis disana :

 

Aku adalah Aku, Akulah anak bangsa yang mereka maksud, Akulah pengubah Dunia!

Saat itu umurku masih sangat muda. 15 Tahun, usia yang cukup bergejolak. Dimasa remajaku, aku punya cita-cita untuk mengubah dunia yang fana ini, dari biadab jadi beradab. Cita-cita yang sangat besar dengan tubuhku yang kecil, tapi semangatku bahkan lebih besar dari cita-cita yang sangat besar itu.

Sebelum aku mengubah dunia, aku harus tahu dulu seburuk apa dunia yang akan kuubah ini. Maka aku mulai membaca buku-buku mengenai dunia ini. Seiring dengan itu, semangatkupun semakin menjadi-jadi. Sampai saat aku lulus SLTA, kusadari bahwa Aku belum juga dapat mengubah satu halpun akan dunia ini.

18 tahun usiaku, saat itu aku mulai berfikip kembali. “Mungkin dunia ini terlalu besar untukku”, maka kupersempit  cita-citaku dan kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku saja.Mengingat terpuruknya negeri ini dengan pemimpin-pemimpin yang tak bertanggungjawab dan rakyat-rakyat yang besar mulut, negeri ini terlihat seperti garuda yang botak.

Dan mulailah kujalani citacita baruku, aku coba tunjukan pada negeri ini bahwa inilah pemuda, Pemuda pengubah bangsa!

Tapi sampai usiaku menginjak dewasa dan mulai berkeluarga, semangat itupun mulai surut. Tak seorangpun menghiraukan semangatku itu. Dengan sisa-sisa semangat yang ada, kembali kupersempit cita-citaku. “Mungkin negeri ini terlalu sulit untuk berubah”, maka kuputuskan untuk hanya mengubah keluargaku saja.

Waktupun terus berlalu, saat tubuhku mulai keriput dan beruban, Keluargaku, mereka tak juga mau berubah.

Dan akhirnya sampai saat ajalku menjelang, baru kusadari : “Andaikan yang pertama kuubah adalah diriku sendiri, dan dengan menjadikan diriku sebagai teladan, mungkin aku dapat merubah keluargaku. Lalu dari dorongan mereka, bisa jadi Aku dapat memperbaiki negeriku dan bukan hal mustahil, siapa tahu, mungkin duniapun dapat kuubah”.

 

Subhanallah, ternyata kakekku orang yang hebat. Sayangnya dia terlalu tua untuk melakukannya, dia tak punya banyak waktu. Aku jadi menyesal tak pernah mendengarkan nasihat kakek. Tapi, tunggu dulu… kenapa kakek menceritakan kisahnya padaku? Ya, mungkin memang benar. Dia memang tak punya banyak waktu, tapi aku punya, aku punya banyak sekali waktu. Mungkin kakek ingin aku meneruskat hasratnya. Hasrat untuk berubah yang dimulai dari diri sendiri. Baiklah, kek. Jika kita bertemu di akhirat nanti, kau akan bertemu dengan seorang Pengubah Dunia!

 “Sayyid M. Herlan _ Dexa-One MAN Ciawigebang”

Terinsipirasi dari puisi “The Willingness to Change”

karya Anglican Arch Bishop pada tahun 1100 M.


Tak Semestinya Aku Begitu

“Afika!”, terdengar suara Agnes memanggilku dari dalam Porche putih yang berhenti di sampingku saat aku berjalan di trotoar jalan. “Hai, kamu Afika kan? Berangkat bareng yuk! ^_^”, ajaknya padaku. Sebenarnya aku malu untuk menerima ajakannya saat itu, tapi tetap saja aku ikut masuk, “Kapan lagi coba naik mobil beginian?” pikirku dalam hati. Kami adalah murid-murid ajaran baru di sekolah yang sangat elit ini. Tentu saja sekolah ini di penuhi orang-orang kaya seperti agnes, berbeda denganku, aku bisa menginjakkan kaki di sekolah ini hanya dengan beasiswa yang kudapat. Sejak saat itu, hubungan kami menjadi sangat dekat, tapi sejak saat itu pulalah aku mulai merasa tak nyaman dengannya.

Saat bel istirahat berbunyi, kami berdua pergi ke kantin sekolah. Tak seperti Agnes, dia mengambil makanan-makanan yang ada disana dengan santainya, sementara aku lihat-lihat harganya dulu. “Udah, fik. Ambil aja, biar aku yang bayar”, katanya saat melihat tingkahku. “Oh, gak usah nes. Biar aku bayar sendiri aja”, jawabku menolaknya. “Udah gak papa. Ambil aja, jangan malu-malu”, dia memaksaku menerima tawarannya, karna dia memasukkan makanan-makanan mahal itu ke piring tanpa seizinku, akupun mengiyakan tawarannya. “Mau bayar pake apa coba kalo aku tolak?” pikirku. Sebenarnya aku sangat malu, semua orang disana melihatku dengan pandangan yang aneh. Tapi Agnes seperti tak mengerti rasa maluku.

Begitupun saat bel pulang berbunyi, seperti biasa aku menunggu angkot di dekat sekolah untuk pulang ke rumahku. Tapi tiba-tiba… “Hai, pulang bareng yuk!”, dengan wajah lugunya dia kembali mengajakku naik ke mobil mewahnya. “Gak usah, agnes. Rumah aku kan lumayan jauh”, kembali aku menolaknya. “Nggk papa, fik. Aku juga sekalian jalan-jalan”, seperti di kantin tadi, kali ini dia memaksaku untuk ikut dengannya, dia menarikku masuk ke mobil itu. Untuk yang kedua kalinya, aku dimuat malu oleh kebaikan hatinya.

Di pertengahan jalan, dia berkata padaku “Fik, mampir dulu ke rumahku ya!”, tanpa ragu dia mengajakku mampir ke rumahnya. “Gak, agnes. Aku malu, lagian aku juga pengen cepet-cepet pulang”, untuk kesekian kalinya, aku coba untuk menolak kebaikannya. Namun, karna dia pegang kemudi penolakanku sia-sia. Sesampainya di rumah Agnes, aku dibuatnya terbelalak. “Ini rumah apa gedung?”, pikirku saat melihat betapa besarnya rumah agnes itu. “Masuk, yuk!”, ajaknya.

“Siapa, nes?”, suara wanita terdengar dari dalam rumah mewah itu. “Kenalin, ma. Ini Afika, temen Agnes”, ternyata dia ibunya. “Oh, temen kamu? dari sekolah mana?”, Tanya wanita itu dengan wajah yang heran. “Dari sekolah aku dong”, jawab Agnes. Mungkin dia tak percaya bahwa aku bersekolah di tempat yang sama dengan agnes, melihat baju seragamku yang lusuh dan usang. Aku benar-benar malu saat itu. Sekali lagi, untuk kesekian kalinya aku dibuat malu oleh kebaikan hatinya.

“Ajak dia belanja baju, nes”, dengan wajah tanpa dosa ibu itu menyuruh agnes untuk membelikanku baju. Aku benar-benar terpukul mendengar perkataan ibu itu. Aku langsung minta diantar pulang oleh Agnes. Aku benar-benar malu.

Sejak kejadian itu, aku tak mau lagi berhubungan dengan Agnes. Aku malu bersama dengannya. Teman-temanku di sekolah itu jadi berfikir bahwa aku hanyalah penjilat yang hanya memanfaatkan kekayaannya untuk kesenanganku. Tapi, Agnes masih tetap tak mengerti akan penderitaanku bersamanya. Dengan santainya, dia masih sering menawariku kemewahan-kemewahan yang dia miliki. Aku semakin membencinya.

Sampai suatu saat, aku mendengar kabar kepindahan dirinya. Hari demi hari berubah menjadi bulan, dan bahkan menjadi tahun. Lama kelamaan, aku menyadari bahwa apa yang kulakukan adalah salah. Dia hanya bermaksud baik padaku dan aku tak seharusnya membencinya. Dan akhirnya, penyesalanlah yang menjadi pengganti kepergian dirinya, Agnes teman terbaikku.


Indonesian Red Crescent

Bhineka Tunggal Ika, Berbeda-beda tetapi tetap satu jua . Ya, Indonesia memang negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan memiliki banyak kebudayaan yang berbeda, termasuk dalam agama.  Islam bukanlah satu-satunya agama yang ada di negeri ini, aku mengerti akan hal itu. Tapi untuk “Palang Merah”, apa tidak bisa ada 2 gerakan di negara Bhineka Tunggal Ika ini? Inilah salah satu alasanku masuk dalam organisasi PMR di madrasah ini, memang bukan alasan utama sih tapi cukup membuatku berapi-api untuk memperjuangkan Bulan Sabit Merah.

Namaku Naqil Sayyaf, aku hanya seorang anak remaja 15 tahun yang terobsesi untuk merubah hal-hal besar seperti ini. Sebenarnya Aku  tak tahu apa ini hanya pikiran bodohku atau memang jalan takdirku, yang jelas aku sangat bersemangat. Alasanku cukup sederhana dan mungkin juga agak aneh, aku pikir.. “Palang” dalam bahasa inggris disebut “Cross”, tapi salib yang menjadi simbol dari agama Kristen juga disebut “Cross”. Itu berarti, di Eropa atau tepatnya aku tak tahu, mereka menyamakan antara Palang dan Salib, lalu apa salah jika aku mengatakan Palang Merah dengan sebutan Salib Merah? Setidaknya itu asumsiku.

14.00 , bel pulang memang selalu berdentang tepat waktu. “Ini hari Kamis, dan hari Kamis adalah agenda untuk rapat, aku harus bisa meyakinkan teman-temanku!” pikirku dalam hati seraya membereskan alat tulis dan bersiap untuk keluar ruangan. Beberapa menit kemudian, ku lihat diseberang kelasku telah berkumpul beberapa orang dengan pita palang menempel dilengan baju dan jilbab kiri mereka, teman-teman se-PMR ku. Akupun segera ikut bergabung dengan mereka. “Eh, ngapain ngumpul disini? Masuk yuk! J”, ajakku pada mereka untuk segera masuk dalam ruangan dan memulai  rapat itu.

“Ini adalah kesempatanku”, pikirku dalam hati. Saat semua anggota telah duduk, kuangkat badanku dari kursi ini dan mulai berbicara pada mereka, ku ceritakan niat, tujuan dan alasanku mengenai Bulan Sabit Merah. Awalnya, tak seorangpun menanggapi omonganku itu, mereka sama sekali tak menghiraukan maksudku. Apa mereka pikir itu hanya bualan konyol dan tak ada keseriusan di dalamnya ataukah mereka memang tak sependapat denganku? Aku tak tau. Sampai saat Firman menjawab, “Tapi, bukannya itu melanggar hukum? Apa kamu gak takut di penjara?” Tanya temanku yang duduk di bangku pojok. Akupun menjawabnya, “Tidak jika kita minta izin pada hukum, hukum dibuat untuk membuat kita nyaman dan aman, kalau kita tidak merasa seperti itu, kenapa takut untuk merubahnya? Bukankah negara ini negara demokrasi? kita akan pergi ke kantor PMI untuk mengutarakan maksud kita, karna itu aku butuh dukungan kalian”. “Apa kamu yakin ini akan berhasil? Jujur saja, aku ragu.” Sanggahnya lagi. “Tak akan tau jika tidak dicoba”, jawabku.

Untuk beberapa saat, keheningan menyelimuti ruangan ini, tak ada seorangpun yang berani berbicara lagi. “Maaf, qil. Tapi aku tak sependapat denganmu, maaf.”, suara Firman memecah kesunyian. “Ya, tak apa, seperti kataku tadi, negara ini negara demokratis”, jawabku dengan senyuman penuh kecewa. “Yah, mungkin aku memang harus berjuang sendiri”, pikirku saat melihat tak adanya respon positif dari mereka. Tapi, tiba-tiba.. “Aku setuju. Asalkan kamu mau berjanji, kita akan hentikan ini jika kita gagal, aku gak mau dibilang pengkhianat atau pemberontak, aku takut.” Nabila, teman sekelasku menyetujui keinginanku itu. Seisi ruanganpun terkejut mendengar perkataan Nabila. Aku benar-benar tak menyangka bahwa dirinya akan mendukungku, padahal dia adalah gadis yang manis dan lugu, dan yang lainpun pasti berfikir begitu.

“Terimakasih Nabila. Untuk yang lainnya, apa tidak ada lagi?” semua diam saat kutanya, terlihat jelas wajah bingung pada mereka. Aku tak tahu arti diam itu, apakah setuju, tidak setuju, atau takut untuk setuju? Tapi tak apa, gagasanku memang cukup gila untuk disetujui, mendapat seorang pendukung sudah lebih dari cukup. Sejak kejadian itu, tingkah teman-teman jadi berbeda pada kami ber-2, terutama padaku. Tak apa lah, aku sudah melangkah sejauh ini, tak mungkin mundur lagi. Yah.. apa boleh buat, mungkin inilah resiko yang didapat jika ingin melawan dunia (mungkin).

Asslamu’alaikum..

Bil, bsok plang skull ad acra gak?

Klo g ad, rncna’a bsok ak maw ke kntor PMI pusat, ngrusin msalah yg kmaren..

Kamu ikut kn?

Ku ketik sms itu dan kukirimkan pada Nabila, “Huft, masih banyak hari diakhir pulsa, semoga aja dia mau ikut deh, semoga aja.. :I”, pikirku sambil menghela nafas saat ku tekan *123# di ponsel tak bermerkku. Tak lama kemudian, sms balasan darinya menggetarkan ponselku. Dan Alhamdulillah, tentu dia akan ikut. “Besok pasti akan jadi hari yang menarik, aku yakin itu!” gumamku.

Keesokan harinya, 14.00  seperti biasa bel pulang berbunyi dengan lantangnya. Tak lupa akan janjiku kemarin, Akupun menunggu Nabila keluar dari kelas. Tak lama kemudian, “Hei, Qil !!” suara Nabila mengagetkanku. “Haduh, ngagetin aja. Kirain apaan”, kataku. “Hehe, jadi gak nih kita ke PMI?” Tanya Nabila. “Ya jadi lah, ayo langsung berangkat aja” ajakku padanya.  “Oke deh..” jawab Nabila.

Kamipun berangkat ke kantor PMI yang kebetulan jaraknya tak begitu jauh dari Madrasah ini. Sekitar 30 menit setelahnya, akhirnya tiba juga kami di tempat tujuan. Disana, kami coba untuk bertemu langsung dengan ketua PMI saat itu, Bapak  Dr. Djoehana. Tapi ternyata, tak semudah itu bertemu dengan orang sibuk seperti beliau, kami harus membuat janji dulu dengannya melalui sekertaris pribadinya. Dan ternyata, kami baru bisa menemuinya 2 hari lagi pada hari kamis jam tiga sore. “Yah, gimana nih? Hari kamis aku ada acara, aku gak bisa ikut kayaknya”, kata Nabila dengan wajah yang kecewa. “Yaudah gak apa-apa, ntar biar aku aja yang kesini, kamu gak usah ikut”. Diapun mengiya kan keputusanku, bukan apa-apa.. aku hanya tak ingin merepotkannya hanya karna  niat anehku ini, itu saja.

“… kupikir hari ini akan jadi hari yang menarik, :/ yasudahlah, Cuma 2 hari kan? Bersabarlah Naqil” ,batinku menguatkan hati. Kamipun langsung pergi meninggalkan gedung besar itu, tentu saja ke rumah masing-masing.

2 hari telah berlalu, 06.35 aku tiba di sekolah dengan semangat yang membara. “Semoga kali ini gak salah, ini akan benar-benar jadi hari yang menarik, insya’allah”, pikirku sambil duduk di depan kelas. “Naqil!”, tiba-tiba terdengar suara gadis yang ku kenal dari dalam,  ternyata itu Nabila. Dia pun keluar dan duduk disampingku, “gimana nanti siang? Kamu dah siap?”. “Pastilah, dari awal juga dah siap kali”, jawabku penuh semangat. “Ati-ati lo, semakin tinggi harapan, semakin sakit klo jatuh, hehe”, tutur Nabila menasihatiku. “Gak papa, kalo jatuh, tinggal bangun lagi.. apa susahnya? J”, jawabku santai. “Iya deh, percaya. Good Luck yah!”, Nabilapun masuk ke dalam kelas. 07.00 , beberapa saat kemudian, bel masukpun berbunyi. Akupun mengikuti langkah Nabila untuk masuk ke dalam kelas, berharap agar 7 jam ini cepat berlalu.

Sepulang sekolah, sama dengan 2 hari yang lalu aku berangkat lagi ke gedung PMI itu, bedanya kali ini aku sendiri. 3 menit lebih cepat, 27 menit kemudian sampailah aku di tempat tujuan,. Tapi itu tak cukup untuk meredam ketidaksabaranku bertemu dengan beliau, ketua PMI yang terhormat. Disana, aku langsung menuju pada sekertaris yang menjanjikan jadwal ini padaku. “Oh, kamu sudah datang. Silahkan dik, bapak sudah menunggu”, kata sekretaris itu. “Alhamdulillah” akhirnya hal yang kutunggu-tunggu terwujudkan. Tanpa berpikir panjang lagi, langsung saja kubuka pintu ruangan Pak Dr. Joehana itu.

“Assalamu’alaikum”, kuucapkan salam saat membuka pintu itu, jujur ada sedikit rasa nervous.

“Wa’alaikum salam, silahkan masuk, nak. Apa ada yang anda butuhkan dari saya?” suara lembut dan berwibawa terdengar dari balik pintu itu, subhanallah. Akupun masuk dan duduk dikursi didepannya seperti apa yang dia perintahkan.

“Ngmm, maaf mengganggu pak. Nama saya Naqil, saya anggota PMR di Madrasah saya. Langsung saja pak, maksud kedatangan saya kesini, saya ingin mengatakan suatu hal pada bapak, saya berniat untuk membuat satu gerakan lagi di negara ini, gerakan kemanusiaan yang khusus untuk umat islam, Bulan sabit Merah Indonesia. Maaf apabila ini sangat lancang”, kukatakan maksudku itu padanya dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Apa maksudmu, nak? Apa alasanmu ingin melakukan itu?” tanyanya padaku sambil mengerutkan dahi.

“Alasan saya, tanda Palang terlalu identik dengan salib. Saya tidak setuju jika umat muslim Indonesia memakai lambang itu, jika bisa saya ingin khusus untuk muslim Indonesia menggunakan lambang Bulan Sabit Merah seperti negara-negara Islam yang lainnya.”, jawabku dengan tangan yang masih gemetar.

“J Saya mengerti maksudmu, anak muda. Tapi perlu kamu tahu, peraturan yang dikeluarkan ICRC setiap negara hanya diperbolehkan menggunakan satu lambang dan mereka tak pernah main-main, saya tak tahu apa sanksinya jika kita melanggar itu. Kamu anak yang pintar, kamu juga pasti tahu bahwa negara ini bukanlah negara islam, walaupun mayoritasnya begitu”, jawabnya lagi sambil tersenyum padaku, aku cukup dibuat bingung dengan senyumannya itu.

“Ia, saya tahu itu pak, memang mereka punya peraturan seperti itu. Tapi visi misi dan tujuan ICRC itu tertulis jelas di buku pelajaran PMR saya, “ICRC adalah organisasi yang tidak memihak, netral, dan mandiri, yang misinya semata-mata bersifat kemanusiaan yaitu untuk melindungi kehidupan & martabat para korban konflik bersenjata dan situasi-situasi kekerasan lain dan memberi mereka bantuan”. Disana tak tertulis masalah lambang, kenapa harus diributkan? Yang beda kan hanya lambangnya, pak. Tujuan kami tetap sama seperti Palang Merah, kami adalah remaja kemanusiaan”. Sanggahku pada beliau dengan tangan yang tak lagi gemetar.

“Huft.. Baiklah, nak. Saya suka semangatmu. Saya akan coba memperjuangkan argumenmu itu, tapi dengan satu syarat. Jika ini gagal, kamu harus mundur, jika tidak kamu akan dituduh pemberontak. Saya tak mau itu terjadi pada pemuda sepertimu.” Katanya sambil menghela nafas. Aku tak percaya akan hal ini, dia menyetujui niat extrimku, sulit dipercaya.

“Ia, baiklah pak. Terimakasih, terimakasih sekali, pak. Tapi kapan anda akan bicara pada mereka (ICRC) ? dan kapan saya bisa dapat hasilnya pak?” tanyaku padanya.

“Kamu anak yang tidak sabaran ya. 3 Minggu lagi akan ada Konferensi Internasional di Jenewa, Swiss. Saya akan coba kesana dan membahas hal ini. Hasilnya, akan segera kamu dapatkan. Bersabarlah, nak.” Jawabnya.

“Oh, terimakasih pak. Ia, saya akan sabar menunggu. Terimakasih”. Akupun sangat senang mendengar perkataanya. “Baiklah pak, mungkin hanya itu. Saya pamit pulang dulu. Sekali lagi terimakasih.” Lanjutku. Ku langkahkan kakiku meninggalkan ruangan itu. Tapi tiba-tiba ditengah langkahku..

“Tunggu sebentar, nak. Siapa namamu tadi?” Beliau menanyakan namaku.

“Naqil , Naqil Sayyaf pak.” Jawabku singkat.

“Naqil ? Terimakasih J”, Katanya. Ada sedikit hal yang tak kumengerti dari ucapan terimakasihnya. Wajah itu, senyuman itu.. seperti menyimpan sebuah harapan, mata tajamnya terlihat sangat indah.

“Sama-sama, pak”, hanya itu yang kuucapkan padanya. Hari itu, aku pulang kerumah dengan rasa semangat dan senang yang amat sangat. “Ini memang hari yang sangat menarik, aku tak salah.” Gumamku.

Sesuai janjinya, tiga minggu telah berlalu. Dan 3 hari setelahnya, ada sepucuk surat yang datang kepadaku. Amplopnya sangat bagus, dan didepannya ada gambar “Palang Merah”. “Ternyata, beliau.. Dr. Djoehana mengirimkan surat pribadinya padaku. Saat kubuka amplop itu, ternyata Isinya :

 

“Maaf,nak. Tepatilah janjimu itu. Hentikan niatmu, tapi jangan hentikan perjuanganmu.

Jangan bersedih, dan tetaplah menjadi putra bangsa yang bersemangat.”

 

Ternyata benar kata Nabila, semakin tinggi harapan, semakin sakit juga jatuhnya. Yah, tak apalah. Mungkin ini yang terbaik, kata kakek “Yang terbaik bukanlah yang terindah” , aku hanya perlu menerimanya dengan sepenuh hati (mungkin). Bersifatlah Qana’ah, qil.. bersifatlah qana’ah.


Tronity | Suku Zety

100 tahun telah berlalu, tapi perang belum juga berakhir. Mereka yang menyebut dirinya “Suku Zety” ataupun kami sekelompok manusia modern, aku tak mengerti, kenapa kita harus berperang? Padahal kita makhluk yang sama. Tidak, walaupun aku tak tahu sejarah yang ada antara kita, yang pasti perang tak menyelesaikan apapun.

Namaku Nuno. Ayahku adalah seorang Jendral  yang telah bertahun-tahun berperang melawan Suku Zety. Barabor adalah musuh terberatnya, dia adalah pemimpin dari mereka, Suhu Zety. Ada satu hal yang tak kumengerti, aku terlahir dalam kelompok manusia yang disebut “Tronity”, tapi dalam diriku, aku memiliki kekuatan-kekuatan ghaib yang hanya dimiliki oleh orang-orang Suku Zety, aku bisa merubah pohon, batu, ataupun tanah menjadi monster, aku bisa membuat Topan, dll. Apakah aku anak seorang Zety? Sering terpikir olehku tentang hal itu, tapi itu tidak mungkin. Ibuku telah meninggal saat dia melahirkanku, dia jelas bukan Zety, dan ayahku adalah Jendral besar Tronity yang membenci para Zety.

“Duaarrrr!!”, gemuruh bom ayah memecah keheningan. “Huh, mulai lagi” pikirku dalam hati. “Nuno!! Cepat bantu kami!” panggil Ayahku. “Tidak bisa, ini harus diakhiri”, gumamku. Akupun beranjak dari tempatku dan menghampiri para prajurit yang sedang berperang. “Nuno, cepat hidupkan pohon untuk menghalau serangan mereka!” perintah ayah. “Aku hanya anak kecil berumur 15 tahun, apa yang bisa kulakukan?” jawabku dengan jengkel. “Jangan banyak bicara, ini perintah!” bentaknya padaku. Akupun kesal dan muak akan semua ini. “Cukup ayah, kenapa kita tidak berdamai dengan mereka? Perang tak menyelesaikan apapun!”. “Apa maksudmu? Perang akan berakhir dan kita akan memenangkannya!”, jawab ayah. “Itu yang ke-50 kalinya ayah bicara seperti itu, kalau ayah tak mau melakukannya, akan kulakukan sendiri”. Akupun pergi meninggalkan ayahku itu, kulangkahkan kakiku ke tengah-tengah peperangan yang sedang panas, aku berdiri diantara Suku Zety dan Tronity.

“Apa yang dilakukan bocah bodoh itu?” pikir ayahku. Tak Cuma ayah dan prajurit kami, kubu lawanpun bingung dengan apa yang kulakukan. Barabor sang pemimpin Zety pun berteriak, “Hancurkan bocah itu!” merekapun menyihir bebatuan menjadi monster dan menyerangku. Tapi hanya dengan satu tatapan mataku, monster itupun hancur dengan seketika. Kupegang tanah dibawahku dan menaikkannya membentuk dinding besar yang membatasi kedua belah pihak. Akupun berteriak pada mereka, “Hentikan peperangan! Aku adalah anak seorang Jendral besar, darah Tronity mengalir dalam diriku! Tapi aku juga memiliki kekuatan para Zety, jadi aku juga bagian dari kalian, hentikan peperangan! Peperangan tak menyelesaikan apapun!”. Suku Zety pun berlutut setelah mendengarkan perkataanku, Barabor berkata, “Kau adalah pemimpin kami, ramalan mengatakan bahwa akan ada seorang anak Zety yang terlahir di dalam Tronity, darah keduanya mengalir dalam tubuhnya, dia akan membawa kedamaian pada kami”. Dan kemudian, Ayahku pun berkata, “Mereka benar Nuno, darah Zety mengalir dalam tubuhmu, Ibumu berasal dari Suku Zety, tapi dia meninggal setelah melahirkanmu”. Semua orangpun terkejut mendengar perkataan ke-2 pemimpin itu. Sejak saat itu, Suku Zety dan Tronity pun tak lagi berperang, mereka ingin aku menjadi pemimpin diantara mereka, tapi saat itu aku masih terlalu muda untuk memimpin. Dan akhirnya diputuskan bahwa ayahkulah yang menjadi pemimpin dari kami, Suku Zety dan Tronity.

(beberapa saat kemudian..) “Nuno! Bangun, sudah pagi. Kamu harus sekolah!”, suara ibu membangunkanku dari tidur. Ternyata, itu semua hanyalah mimpi dan fantasi imajinasiku. Tapi tak apa, aku sangat menyukainya, kecuali pada bagian ibuku meninggal saat melahirkanku. 😀


%d blogger menyukai ini: